Arusnarasi.id – Eskalasi konflik di Timur Tengah semakin memanas ketika rangkaian serangan udara dan balasan rudal terus terjadi di sejumlah negara kawasan. Konflik yang melibatkan Iran, Israel, serta dukungan militer dari Amerika Serikat kini memasuki minggu kedua dan menunjukkan tanda-tanda meluas menjadi konflik regional, Minggu (8/3/2026).
Militer Israel dilaporkan kembali melancarkan serangan udara di Beirut, Lebanon yang menargetkan komandan dari Garda Revolusi Iran. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan sejumlah orang dan memperparah situasi keamanan di wilayah tersebut.
Di sisi lain, Iran terus melancarkan serangan balasan dengan rudal dan drone ke berbagai titik di kawasan Teluk. Laporan militer menyebut beberapa negara seperti Qatar, Arab Saudi, dan Kuwait menjadi sasaran serangan yang sebagian berhasil dicegat sistem pertahanan udara.
Ketegangan juga meningkat setelah Iran menyatakan siap menghadapi perang berkepanjangan. Garda Revolusi Iran bahkan menyebut negaranya mampu bertempur hingga enam bulan jika konflik dengan Israel dan Amerika Serikat terus berlanjut.
Perang yang dipicu oleh serangan militer Israel dan Amerika Serikat terhadap target strategis Iran pada akhir Februari lalu kini telah menelan ribuan korban di berbagai negara kawasan. Infrastruktur energi, fasilitas militer, hingga wilayah sipil dilaporkan ikut terdampak dalam rangkaian serangan yang terus terjadi.
Situasi tersebut memicu kekhawatiran global karena konflik mulai menjalar ke sejumlah negara di Timur Tengah. Para pemimpin dunia mendesak penghentian serangan dan kembali ke jalur diplomasi guna mencegah konflik berubah menjadi perang besar yang lebih luas.
Namun hingga hari ini, tanda-tanda de-eskalasi masih belum terlihat. Serangan dan ancaman balasan terus berlangsung, menjadikan Timur Tengah kembali berada di titik paling panas dalam peta geopolitik dunia saat ini.
