Foto Istimewa: Marten Taha
Arusnarasi.id – Kerinduan terhadap kepemimpinan kembali menguat di tengah sebagian warga. Sepuluh tahun memimpin kota tersebut, mantan wali kota itu dinilai meninggalkan jejak kepemimpinan yang masih membekas di ingatan masyarakat.
Selama dua periode menjabat, Marten Taha berhasil memenangkan dua kontestasi politik melawan . Butuh waktu hampir satu dekade bagi Adhan Dambea untuk kembali menduduki kursi Wali Kota Gorontalo.
Sejumlah kalangan bahkan berpendapat, seandainya aturan memperbolehkan wali kota menjabat hingga tiga periode dan Marten Taha kembali maju dalam pemilihan, peluangnya untuk kembali memenangkan pertarungan politik dinilai sangat besar.
Namun aturan membatasi masa jabatan kepala daerah hanya dua periode. Meski demikian, kerinduan terhadap gaya kepemimpinan Marten Taha disebut-sebut masih terpatri kuat di benak sebagian warga Kota Gorontalo.
Pada masa kepemimpinannya, kota ini dinilai relatif aman dan kondusif. Pembangunan berjalan, program bantuan sosial tersalurkan, hak-hak aparatur sipil negara terpenuhi, serta suasana pemerintahan dianggap lebih stabil. Bahkan persoalan kebersihan kota disebut lebih terkendali.
Seorang tokoh masyarakat di Kota Gorontalo yang enggan disebutkan namanya menilai kondisi saat ini berbeda dibandingkan era kepemimpinan Marten Taha. Ia secara khusus menyoroti persoalan sampah yang kini mudah ditemukan di berbagai sudut kota.
“Terus terang saya rindu kepemimpinan Pak Marten Taha. Dulu suasana kota terasa lebih adem dan tenang, ASN bekerja tanpa tekanan. Kota Gorontalo juga relatif bersih. Sekarang sampah bisa ditemukan di mana-mana, bahkan di jalan-jalan strategis,” ungkapnya.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat sebagian warga mulai membandingkan situasi kota saat ini dengan masa kepemimpinan sebelumnya.
