Arusnarasi.id – Lagi dan lagi, wajah Kota Gorontalo memperlihatkan ironi yang sulit disangkal. Di tengah janji besar penataan kota yang bersih, realitas di lapangan justru menunjukkan hamburan sampah yang berserakan di kawasan perkotaan, seolah menjadi simbol gagalnya disiplin yang selama ini digaungkan.
Salah satu ruas jalan kawasan pertokoan, sampah rumah tangga dan limbah plastik tampak tercecer di sepanjang badan jalan. Kantong-kantong sampah yang mestinya terangkut tepat waktu justru terbuka dan menyebar, menciptakan pemandangan kumuh yang tidak hanya merusak estetika kota, tetapi juga memunculkan aroma ketidakpedulian yang semakin terasa.
Padahal sebelumnya, Walikota dengan tegas menyatakan komitmennya untuk menata kota agar bersih dari sampah. Aturan jam buang sampah telah diumumkan, larangan telah dipasang, bahkan ancaman sanksi turut disampaikan kepada masyarakat yang melanggar.
Namun fakta di lapangan justru menghadirkan pertanyaan besar, apakah aturan itu benar-benar ditaati, atau hanya berhenti sebagai pengumuman tanpa pengawasan yang kuat?
Hamburan sampah yang kembali terjadi bukan sekadar persoalan kebersihan semata. Kondisi ini dapat dimaknai sebagai sinyal melemahnya kepatuhan masyarakat terhadap kebijakan pemerintah kota. Ketika aturan sudah dibuat tetapi pelanggaran terus berulang, maka yang dipertaruhkan bukan hanya kebersihan kota, melainkan juga wibawa kepemimpinan.
Bukan kalin ini, sebelumnya sampah jadi sorotan beberapa media di Gorontalo. Ironi semakin terasa ketika janji menata kota yang bersih terus disuarakan, sementara di sisi lain, jalan-jalan kota masih dihiasi sisa-sisa sampah yang dibiarkan menumpuk. Pemandangan ini seakan menjadi gambaran nyata bahwa kebijakan tanpa pengawasan dan ketegasan hanya akan berakhir sebagai slogan.
Seorang warga sekitar yang enggan dipublish namanya, menjelaskan, disiplin warga memang penting, tetapi harus dibarengi dengan sistem pengangkutan sampah yang konsisten, fasilitas memadai, serta pengawasan yang tidak tebang pilih.
Menurutnya lagi, masalah sampah di Kota bukan lagi sekadar isu kebersihan biasa. Ia telah berubah menjadi cerminan hubungan antara aturan dan kepatuhan, antara janji dan realisasi.
“Ketika sampah terus berserakan di tengah kota, maka yang tercoreng bukan hanya jalanan, tetapi juga kepercayaan publik terhadap keseriusan Pak Adhan Dambea dalam menata kota”, urainya.
Sementara itu, warga yang sedang diwawancarai enggan memberi komentar karena takut, Minggu (22/03/2026).
“Saya tidak mau menjawab pertanyaan ini, saya takut. Sebab kalau saya salah bicara, pasti saya akan dimarahi oleh Pak Adhan”, katanya tanpa memberi tahu namanya karena takut.
Kini publik menunggu, apakah hamburan sampah ini akan kembali dianggap sebagai rutinitas yang biasa, atau justru menjadi momentum untuk membuktikan bahwa ketegasan pemerintah bukan sekadar kata-kata, melainkan tindakan nyata yang bisa dirasakan masyarakat.
